Sejarah

📍

Asal-usul penduduk Kampung Tepian Buah bermula dari Kampung Long Ampung, Kecamatan Kayan, Kabupaten Bulungan (kini masuk wilayah Kabupaten Malinau). Karena kesulitan memperoleh kebutuhan pokok dan akses pendidikan, pada tahun 1957 beberapa tokoh masyarakat berinisiatif mencari lokasi permukiman baru di wilayah Kutai, Bulungan, dan Berau.

⛰️

Pada tahun 1970–1971, Bapak Pelenjau Apui memimpin ekspedisi ke Kabupaten Berau dan menetap sementara di Long Tuyoh bersama tujuh kepala keluarga. Namun lokasi tersebut sulit dijangkau pemerintah, sehingga Bupati Berau saat itu, Bapak Jayadi, BA, menyarankan agar permukiman dipindahkan ke daerah yang lebih mudah diakses. Atas arahan tersebut, pada tahun 1973 masyarakat pindah ke tepian sungai yang kini dikenal sebagai Kampung Tepian Buah.

🌳

Nama “Tepian Buah” berasal dari sebuah pohon buah khas Dayak Kenyah (buah San) yang menjadi penanda lokasi awal permukiman. Tahun 1974, pemerintah membina desa melalui Program Resettlement Penduduk (Respen) dan sebagian warga Kampung Gunung Sari ikut bergabung.

🏛️

Seiring waktu, Tepian Buah berkembang menjadi pusat pemerintahan kecamatan. Pada 2003, desa ini resmi mekar dari Kampung Gunung Sari berdasarkan Keputusan Bupati No. 181 Tahun 2003, dengan Kepala Kampung pertama Bapak Ngang Iban. Selanjutnya, kampung dipimpin oleh Bapak Yustin Usat (2005–2011) dan Ibu Surya Emi Susianti yang menjabat dua periode sejak 2011 hingga sekarang.

Seni & Budaya

Kampung Budaya

Masyarakat Suku Dayak Kenyah mendominasi 80% penduduk desa ini. Seni dan tradisi leluhur tetap lestari, sehingga kampung ini diresmikan sebagai Kampung Budaya.

Pakenoq Tawai

Musyawarah besar Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan se-Kaltim dan Kaltara, menjadi ajang silaturahmi dan lomba kesenian tradisi untuk memperkuat budaya.

Uman Undad

Pesta panen tahunan yang digelar awal tahun, menampilkan pentas seni oleh generasi muda untuk meneruskan warisan budaya yang telah ada sejak dahulu kala.

Bahasa Daerah

Seni dan budaya di Kampung Tepian Buah sangat kental dengan pengaruh adat dan bahasa Dayak Kenyah. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat terbiasa berinteraksi menggunakan bahasa daerah mereka. Bahkan dalam berbagai kegiatan — mulai dari rapat kampung, pesta panen, hingga gotong royong — bahasa Dayak Kenyah tetap dipertahankan sebagai identitas budaya yang hidup dan dijaga turun-temurun.